
Orang Indramayu kadang mendapat pertanyaan yang sama berulang kali dari orang luar daerahnya: “Kamu orang Sunda atau Jawa?” Pertanyaan itu wajar. Indramayu secara resmi masuk wilayah Jawa Barat, provinsi yang identik dengan bahasa dan budaya Sunda. Tapi begitu seseorang dari Indramayu mulai bicara, yang keluar bukan bahasa Sunda. Sama sekali bukan.
Jawabannya memang tidak sesederhana memilih salah satu. Ada lapisan sejarah panjang di baliknya.
Secara Administrasi Masuk Jawa Barat, tapi Bahasanya Jawa
Indramayu adalah kabupaten di pesisir utara Jawa Barat, berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Secara administratif, ia berada satu provinsi dengan Bandung, Bogor, dan Tasikmalaya, kota-kota yang kental berbahasa Sunda. Tapi di Indramayu, bahasa yang dipakai sehari-hari adalah bahasa Jawa dengan dialek khas lokal yang disebut Dermayon atau basa Dermayu.
Bukan dialek yang sama persis dengan Jawa Tengah atau Yogyakarta, tapi secara linguistik tetap diklasifikasikan sebagai bahasa Jawa. Lembaga Basa lan Sastra Dermayu (LBSD) pernah melakukan riset menggunakan metode Morris Swadesh, yaitu membandingkan 200 kosakata dasar antara bahasa Indramayu dan bahasa Jawa Yogyakarta. Hasilnya: perbedaan hanya 28,5 persen. Dalam linguistik, perbedaan di bawah 80 persen masih dianggap satu bahasa yang sama, hanya berbeda dialek. Artinya, secara ilmiah, bahasa Dermayon adalah Jawa, bukan bahasa tersendiri.
Meski begitu, bagi masyarakat Indramayu sendiri, menyebutnya “bahasa Jawa” saja terasa kurang pas. Ada kebanggaan lokal yang membuat mereka memilih menyebutnya bahasa Indramayu atau bahasa Dermayon, dan itu sah-sah saja sebagai ekspresi identitas.
Kenapa Bisa Begitu? Ini Akar Sejarahnya
Untuk memahami ini, perlu sedikit mundur ke beberapa ratus tahun silam.
Sebelum Indramayu berdiri sebagai entitas politik yang jelas, kawasan ini dikenal karena Pelabuhan Cimanuk, salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa. Pelabuhan selalu jadi titik temu berbagai kelompok manusia, dan Cimanuk tidak terkecuali.
Tomé Pirés, seorang pengembara dan apoteker asal Portugis yang singgah di sana antara 1512 dan 1515, mencatat sesuatu yang menarik: di sebelah barat Sungai Cimanuk bermukim orang-orang yang berbahasa Sunda, sementara di sebelah timurnya orang-orang berbahasa Jawa. Catatan Pirés ini menjadi bukti tertua bahwa dualitas bahasa di Indramayu sudah ada sejak abad ke-16, bahkan mungkin sebelumnya.
Bahasa Jawa kemudian semakin mengakar seiring datangnya pengaruh Kerajaan Majapahit, lalu Demak, dan paling kuat pada masa Kerajaan Mataram. Pada tahun 1678, Amangkurat II mengangkat Wiralodra sebagai bupati di Indramayu, memperkuat struktur budaya dan bahasa Jawa di wilayah itu secara formal. Sistem tingkatan bahasa ala Mataram, yakni Ngoko dan Kromo, diadopsi di Indramayu menjadi Bagongan dan Bebasan. Kerangka budaya Jawa masuk, dan perlahan bahasa Sunda tersisih ke pinggiran.
Jalur Pantura juga berperan besar. Sebagai jalur dagang utama yang menghubungkan barat dan timur Pulau Jawa, Indramayu menjadi tempat singgah para pedagang dan pendatang dari berbagai daerah, termasuk banyak dari Jawa Tengah. Pertemuan itu meninggalkan jejak dalam bahasa.
Yang Membuat Bahasa Dermayon Unik
Dialek Dermayon bukan sekadar Jawa yang sedikit berbeda aksen. Ia menyimpan kosakata Jawa kuno yang sudah menghilang di daerah asalnya. Kata reang (artinya “saya”), belih (“tidak”), ngorong (“haus”), kuwu (“kepala desa”), dan pragat (“selesai”) sudah tidak dipakai di Yogyakarta atau Solo, tapi di Indramayu masih hidup dalam percakapan sehari-hari. Bahasa Dermayon, dalam artian tertentu, adalah museum hidup bahasa Jawa kuno.
Di sisi lain, bahasa ini juga menyerap sejumlah kosakata dari bahasa Sunda. Kata murun, misalnya, berasal dari meureun dalam bahasa Sunda, dan masuk secara alami ke dalam percakapan Dermayon. Ini bukan kecelakaan, melainkan cerminan dari berabad-abad hidup berdampingan di perbatasan dua dunia budaya.
Bagi orang Jawa dari Jawa Tengah yang pertama kali mendengar Dermayon, reaksi yang sering muncul adalah kebingungan. Bukan karena tidak dimengerti sama sekali, tapi karena cukup asing di telinga. Intonasi, kosakata, dan ritme bicaranya berbeda. Begitu pula bagi orang Sunda, yang mendengar Dermayon seperti mendengar bahasa yang hampir dikenal tapi tidak sepenuhnya akrab.
Lima Desa yang Masih Setia Berbahasa Sunda
Di tengah dominasi Jawa, ada lima desa di Indramayu yang hingga hari ini masih menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari: Desa Lelea dan Tamansari di Kecamatan Lelea, serta Desa Parean Girang, Ilir, dan Bulak di Kecamatan Kandanghaur. Bahasa Sunda yang mereka pakai pun bukan Sunda Priangan yang umum dikenal, melainkan bahasa Sunda Lama yang tidak mengenal tingkatan bahasa dan tidak menggunakan vokal /eu/.
Dua kecamatan itu letaknya tidak berdekatan, tapi keduanya menyimpan enklave Sunda yang bertahan ratusan tahun di tengah lautan bahasa Jawa. Sungai Cimanuk, yang dahulu menjadi batas antara wilayah pengaruh Pajajaran dan Majapahit, mungkin menjadi kunci bertahannya kantong-kantong Sunda itu di sisi tertentu.
Identitas Indramayu Bukan Jawa, Bukan Sunda, tapi Keduanya
Kalau ditanya secara hitam putih, maka secara bahasa Indramayu adalah Jawa. Tapi budaya Indramayu tidak sesederhana itu. Wikipedia Kabupaten Indramayu mencatat bahwa seni dan budaya Indramayu merupakan akulturasi dari tiga unsur: Jawa pesisir, Sunda, dan Tionghoa. Batik Dermayon punya motif yang terpengaruh Cina, Arab, Hindu-Jawa, dan Eropa sekaligus. Kesenian Berokan mirip barongsai tapi dimainkan saat Idul Fitri. Tarling, musik khas Indramayu-Cirebon, tidak sepenuhnya bisa diklaim salah satu.
Di kalangan orang Indramayu sendiri, ada semacam kesadaran bahwa mereka bukan orang Sunda, tapi juga tidak sepenuhnya orang Jawa dalam pengertian Jawa Tengah. Orang Jawa dari timur mereka sebut wong wetan, orang Sunda mereka sebut wong gunung. Posisi itu bukan ketidakjelasan, melainkan identitas tersendiri.
Identitas yang terbentuk di persimpangan dua peradaban besar memang selalu lebih kaya dan lebih kompleks dari yang kelihatan di permukaan. Indramayu, kabupaten yang juga dikenal sebagai lumbung pangan dan pusat energi nasional, menyimpan lapisan sejarah budaya yang tidak bisa diringkas dalam satu kata.
Jadi, Indramayu Sunda atau Jawa? Jawabannya adalah: sudah Jawa dari ratusan tahun lalu, tapi tidak pernah benar-benar meninggalkan Sunda sepenuhnya, dan dari perpaduan itulah lahir sesuatu yang hanya bisa disebut Dermayon.
